InfoSAWIT, KUALA LUMPUR – Banyak petani sawit kecil masih dibuat bingung dengan hasil panen kelapa sawit yang tidak kunjung meningkat, meski sudah menebar pupuk setiap tahun. Pohon memang tampak tinggi, tetapi tandan buahnya kecil dan sering kali tidak terisi penuh. Daun yang menguning hingga ujung mengering menjadi tanda lain bahwa ada yang tidak beres dengan kesuburan tanah.
Sejumlah studi mengungkap bahwa akar persoalan ini terletak pada ketidakseimbangan nutrisi. Tiga unsur utama yang sering hilang di lahan petani kecil adalah nitrogen, fosfor, dan terutama kalium (potasium). Ketika salah satu unsur ini rendah, pohon sawit tidak mampu memanfaatkan nutrisi lainnya dengan baik. “Kalium sangat penting untuk mengalirkan air dan makanan dalam tanaman. Jika kekurangan, daun jadi rapuh, bunga berkurang, dan tandan buah tidak terisi sempurna,” catat dari informasi diperoleh InfoSAWIT. Sabtu (30/8/2025).
Kondisi ini semakin parah di lahan berpasir dan saat musim hujan lebat. Pupuk yang diberikan mudah tercuci sebelum sempat diserap akar. Belum lagi penggunaan pupuk murah dengan formula yang tidak lengkap, membuat pohon sawit makin lemah dari tahun ke tahun. Hasil panen per hektare pun tetap jauh di bawah potensi yang seharusnya bisa dicapai.
Lalu, apa yang bisa dilakukan? Sebelumnya para ahli menyarankan petani sawit untuk melakukan analisis. tanah dan daun secara berkala, bukan sekadar meniru pola pemupukan tetangga. Dengan mengetahui kondisi spesifik lahan, petani bisa memberikan pupuk berimbang yang mencakup nitrogen, fosfor, dan kalium sesuai kebutuhan.
Selain itu, waktu pemberian pupuk juga krusial. “Jangan menabur pupuk menjelang hujan deras, karena akan hilang terbawa air. Atur jadwal pemupukan agar nutrisi benar-benar diserap tanaman,” catat informasi tersebut. Dengan pengelolaan yang lebih tepat, produktivitas sawit rakyat berpeluang meningkat, sekaligus membantu petani keluar dari jebakan panen rendah yang menahun. (T2)
Sumber Berita : infosawit.com












