InfoSAWIT, JAKARTA – Perbedaan warna buah kelapa sawit di lapangan sering kali memunculkan persepsi yang keliru saat menentukan kematangan tandan buah sawit. Padahal, perubahan warna buah bukan semata dipengaruhi umur tanaman atau perlakuan budidaya, melainkan merupakan karakter genetik yang sudah terbentuk sejak tanaman berasal dari benih.
Anggota Indonesian Planters Society (IPS), Herwin Butarbutar, menjelaskan bahwa setiap tanaman kelapa sawit memiliki tipe warna buah (fruit colour types) yang diwariskan secara genetik. Karena itu, warna buah tidak dapat dijadikan satu-satunya acuan dalam menentukan waktu panen.
“Masih banyak planter maupun pemanen yang menganggap semua buah matang harus berwarna merah. Anggapan ini kurang tepat karena setiap tanaman memiliki tipe warna buah yang berbeda,” jelas Herwin, dilansir InfoSAWIT dalam unggagan di WAG IPS, akhir Juni 2026.
la menerangkan, terdapat tiga tipe warna buah yang umum dikenal pada kelapa sawit, yaitu Nigrescens, Virescens, dan Albescens. Ketiganya bukan merupakan nama varietas benih seperti Socfindo, Sriwijaya, Topaz, Dami Mas, Lonsum, maupun PPKS, melainkan hanya menunjukkan pola perubahan warna buah selama proses pematangan.
Pada tipe Nigrescens, buah muda berwarna hitam keunguan hingga ungu tua akibat dominasi pigmen antosianin. Ketika matang, warna berubah menjadi merah tua atau merah kehitaman, namun perubahannya relatif tidak mencolok sehingga kematangan tandan lebih tepat ditentukan melalui jumlah brondolan yang lepas secara alami.
Sementara pada tipe Virescens, buah muda didominasi warna hijau karena kandungan klorofil. Saat memasuki fase matang, klorofil mulai terurai dan pigmen karotenoid meningkat sehingga buah berubah menjadi kuning, jingga hingga merah-oranye. Perubahan warna yang lebih kontras membuat tipe ini relatif lebih mudah dikenali oleh pemanen.
Adapun Albescens merupakan tipe yang paling jarang ditemukan. Buah mudanya berwarna putih gading atau krem karena pembentukan antosianin hampir tidak terjadi dan kandungan klorofil sangat rendah. Ketika matang, karotenoid mulai berkembang sehingga buah berubah menjadi kuning hingga jingga. Kondisi tersebut kerap membuat buah matang Albescens disangka masih mentah oleh pemaren yang belum mengenali karakteristiknya.
Ditentukan Gen, Bukan Pupuk atau Lingkungan
Herwin menegaskan bahwa penyebab utama perbedaan warna buah berasal dari faktor genetik, bukan dipengaruhi oleh pemupukan, jenis tanah, iklim, umur tanaman maupun cara pemeliharaan.
Menurutnya, gen yang mengatur pembentukan pigmen pada kulit buah (exocarp) menjadi faktor utama yang membedakan karakter setiap tipe warna..
Pigmen antosianin menghasilkan warna ungu, merah tua hingga hitam dan mendominasi Nigrescens. Sementara klorofil memberikan warna hijau pada buah muda Virescens, sedangkan karotenoid menghasilkan warna kuning hingga jingga yang muncul pada seluruh tipe buah ketika matang dengan intensitas berbeda-beda.
Karena dikendalikan oleh faktor genetik, pemupukan tidak akan mampu mengubah buah bertipe Nigrescens menjadi Virescens alaupun Albescens. Pernupukan hanya berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, ukuran tandan, jumlah produksi, kadar minyak, serta kesehatan tanaman.
Demikian pula kondisi lingkungan seperti jenis tanah, curah hujan, iklim maupun umur tanaman. Faktor-faktor tersebut hanya dapat memengaruhi tingkat kecerahan atau intensitas warna buah, tetapi tidak mengubah tipe warna yang telah ditetapkan secara genetik.
Dengan kata lain, Nigrescens akan tetap menjadi Nigrescens, Virescens tetap Virescens, dan Albescens tetap Albescens sepanjang siklus hidup tanaman.
Tidak Berpengaruh terhadap Rendemen Minyak
Lebih lanjut Herwin menepis anggapan bahwa tipe warna buah tertentu menghasilkan rendemen minyak atau Oil Extraction Rate (OER) lebih tinggi dibandingkan tipe lainnya.
“Hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa Nigrescens, Virescens maupun Albescens secara alami menghasilkan OER yang lebih tinggi dibandingkan tipe warna lainnya,” ujarnya.
la menjelaskan, OER jauh lebih dipengaruhi oleh kualitas genetik varietas benih, tingkat kematangan tandan saat dipanen, kondisi budidaya, kesehatan tanaman, kecepatan pengolahan tandan buah segar (TBS) di pabrik kelapa sawit (PKS), serta mutu panen dan proses sortasi.
Karena itu, apabila ketiga tipe warna tersebut berasal dari varietas genetik yang sama, dipanen pada tingkat kematangan yang identik, serta diolah dalam kondisi yang setara, maka potensi rendemen minyaknya pada dasarnya juga sama.
Jangan Samakan Tipe Warna dengan Varietas Benih
Herwin juga mengingatkan agar planter tidak menyamakan tipe warna buah dengan varietas benih komersial.
Varietas seperti Socfindo DxP, Sriwijaya DxP, Topaz DxP, Dami Mas DXP, Lonsum DXP, maupun PPKS DXP menentukan potensi produksi, rendemen minyak, kecepatan pertumbuhan, ketahanan terhadap penyakit, hingga kemampuan adaptasi terhadap lingkungan.
Sebaliknya, Nigrescens, Virescens, dan Albescens hanya menggambarkan pola perubahan warna buah selama proses pematangan.
Untuk memudahkan pemahaman, Herwin mengibaratkan tipe warna buah seperti warna kulit manusia. Perbedaan warna kulit telah ditentukan oleh faktor genetik sejak lahir. Meski dipengaruhi sinar matahari sehingga tampak lebih terang atau lebih gelap, karakter dasarnya tidak berubah. Prinsip yang sama berlaku pada buah kelapa sawit.
Karena itu, ia mengingatkan agar keputusan panen tetap mengacu pada standar kematangan perusahaan, terutama jumlah brondolan yang lepas secara alami dan indikator kematangan lainnya, bukan semata-mata berdasarkan warna buah.
“Tipe warna buah adalah identitas genetik tanaman, sedangkan tingkat kematangan adalah kondisi fisiologis buah. Jangan menyamakan keduanya. Kenali identitasnya, pahami kematangannya, dan panenlah sesuai standar agar produktivitas dan rendemen tetap optimal,” tegas Herwin. (T2)
Sumber Berita : Infosawit.com













