InfoSAWIT, JAKARTA – Nigeria, yang pernah menjadi produsen minyak sawit terbesar dunia dengan pangsa mencapai 43% pasokan global, kini justru bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan domestiknya. Kondisi tersebut menjadi gambaran bagaimana minimnya investasi, lemahnya inovasi, dan tidak konsistennya kebijakan telah menggerus daya saing industri sawit negara di Afrika Barat tersebut.
Dilansir InfoSAWIT dari Business Day, Minggu (2/8/2026), Nigeria saat ini hanya menyumbang sekitar 2% produksi minyak sawit dunia. Padahal, komoditas tersebut merupakan bahan baku utama bagi industri pangan, pengolahan makanan, hingga manufaktur di negara berpenduduk terbesar di Afrika tersebut.
Presiden National Oil Palm Growers Association of Nigeria (OPGAN), Joe Onyiuike, mengungkapkan bahwa penurunan produksi nasional terjadi akibat kurangnya dukungan terhadap sektor perkebunan, mulai dari inovasi teknologi, pembiayaan, hingga program peremajaan tanaman.
“Kami pernah menguasai sekitar 43 persen pasokan crude palm oil dunia, tetapi sekarang hanya mampu menghasilkan sekitar dua persen,” ujar Onyiuike.
Berbeda dengan Nigeria, Malaysia justru berhasil menjadikan kelapa sawit sebagai salah satu tulang punggung perekonomian nasional. Negara tersebut mengembangkan industri sawit melalui kebijakan yang terarah, investasi berkelanjutan, serta penguatan riset dan hilirisasi.
Secara historis, bibit kelapa sawit memang berasal dari Afrika Barat. Pada era kolonial Inggris sekitar 1870-an, material tanaman tersebut dibawa ke Malaysia. Sejak dekade 1960-an, Malaysia berhasil melampaui Nigeria sebagai eksportir minyak sawit terbesar sebelum akhirnya Indonesia mengambil posisi teratas di pasar global.
Saat ini Malaysia menjadi produsen dan eksportir minyak sawit terbesar kedua di dunia setelah Indonesia. Sepanjang 2025, negara tersebut memproduksi sekitar 20,28 juta ton minyak sawit dan mengekspornya ke lebih dari 150 negara.
Industri sawit Malaysia juga menjadi penyerap tenaga kerja yang signifikan dengan sekitar tiga juta pekerja serta memberikan kontribusi sekitar 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Berdasarkan data Malaysia Palm Oil Council (MPOC), sektor ini menghasilkan devisa ekspor sekitar US$27,5 miliar sepanjang 2025.
Keberhasilan tersebut didukung oleh program peremajaan tanaman, investasi riset yang berkesinambungan, pembangunan pabrik pengolahan terintegrasi, hingga pelibatan pekebun swadaya dalam rantai pasok industri.
Sementara itu, kondisi di Nigeria menunjukkan kesenjangan yang semakin lebar antara produksi dan konsumsi. Kebutuhan minyak sawit nasional diperkirakan mencapai 2,7 juta ton per tahun, sedangkan produksi domestik baru sekitar 1,5 juta ton. Kekurangan pasokan tersebut memaksa pelaku industri mengimpor minyak sawit dari Indonesia, Malaysia, dan sejumlah negara produsen lainnya.
Data UN Comtrade mencatat Nigeria menghabiskan sekitar US$155 juta untuk impor minyak sawit selama 2024. Nilai impor tersebut dinilai turut membebani devisa negara sekaligus memperbesar tekanan terhadap inflasi pangan.
Menurut Onyiuike, meski terdapat peningkatan investasi pada fasilitas pengolahan dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan produksi nasional masih berjalan lambat. Ia menilai lemahnya adopsi teknologi, keterbatasan akses pembiayaan, kebijakan yang berubah-ubah, serta belum adanya program replanting nasional menjadi hambatan utama pengembangan industri sawit Nigeria.
Pandangan serupa disampaikan Wakil Presiden National Association of Chambers of Commerce, Industry, Mines and Agriculture (NACCIMA), David Iweta. Menurutnya, Nigeria memiliki peluang besar untuk mengurangi ketergantungan impor crude palm oil (CPO) sekaligus memperkuat sektor ekspor nonmigas apabila mampu membangun industri sawit yang lebih kompetitif.
Ia menilai pengalaman Malaysia layak dijadikan referensi, terutama dalam membangun kebijakan jangka panjang, memperkuat investasi, mendorong inovasi, serta menciptakan sistem industri yang terintegrasi.
“Malaysia berhasil membangun industri minyak sawit yang kompetitif secara global melalui kebijakan yang terarah, investasi besar, dan inovasi. Nigeria dapat mengambil banyak pelajaran dari pengalaman tersebut,” kata Iweta dalam forum Malaysia Market Connect di Lagos.
Keberhasilan Malaysia juga ditopang oleh pembangunan sistem keberlanjutan, ketertelusuran produk (traceability), promosi pasar internasional, serta pengembangan industri hilir bernilai tambah seperti oleokimia, bioenergi, hingga manufaktur berbasis sawit.
Meski demikian, para pakar menilai Nigeria tidak dapat sepenuhnya menyalin model Malaysia. Strategi pengembangan industri sawit harus disesuaikan dengan kondisi geografis, sosial, dan ekonomi negara tersebut agar mampu bersaing di pasar global.
Saat ini sekitar 80% produksi sawit Nigeria masih berasal dari pekebun kecil yang memanen tanaman semi-liar dengan teknologi pengolahan yang sederhana. Padahal, kawasan sabuk sawit Nigeria membentang di 24 negara bagian, termasuk seluruh wilayah Delta Niger dan kawasan tenggara, yang menyimpan potensi besar untuk dikembangkan.
Sejumlah ahli memperkirakan Nigeria membutuhkan sekitar tiga juta hektare perkebunan sawit produktif agar mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri secara mandiri. Tanpa investasi yang memadai pada riset, peremajaan tanaman, peningkatan kapasitas pengolahan, akses pembiayaan berbiaya rendah, serta penguatan rantai pemasaran, Nigeria diperkirakan akan tetap menjadi negara pengimpor bersih komoditas yang dahulu. pernah menjadikannya pemimpin pasar dunia. (T2)
Sumber Berita : infosawit.com













