InfoSAWIT, JAKARTA – Di tengah gencarnya wacana perubahan iklim dan transisi menuju sistem pertanian berkelanjutan, peran petani sawit swadaya kerap luput dari sorotan. Padahal, mereka menjadi garda terdepan dalam penerapan praktik pertanian ramah lingkungan yang turut berkontribusi besar terhadap mitigasi krisis İklim.
Salah satu kontribusi krusial para petani sawit swadaya adalah kemampuannya dalam menyerap karbon melalui pengelolaan lahan yang berkelanjutan. Seperti tanaman lainnya, pohon kelapa sawit secara alami menyerap karbon dioksida (CO2) melalui proses fotosintesis. Namun, potensi sesungguhnya terletak pada bagaimana lahan dikelola dengan pendekatan regeneratif yang mampu meningkatkan cadangan karbon tanah secara signifikan.
Dalam praktiknya, banyak petani sawit swadaya yang Lelah beralih menggunakan pupuk organik berbahan dasar limbah ternak. Kotoran hewan diolah menjadi kompos atau biogas yang tidak hanya menghasilkan emisi metana lebih rendah, tetapi juga memperkaya kandungan karbon organik dalam tanah. Pendekatan ini terbukti efektif dalam meningkatkan kesuburan lahan dan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia yang mahal.
Menariknya, limbah perkebunan seperti gulma, pelepah, dan tandan kosong sawit juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Pola ini menciptakan sistem pertanian terpadu yang saling menguatkan antara sektor peternakan dan perkebunan.
Dilansir dari keterangan resmi dikutip InfoSAWIT, Sabtu (2/8/2025), inisiatif regeneratif ini digerakkan oleh Forum Petani Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (FORTASBI). Sejak 2022, FORTASBI telah menjalankan program identifikasi pertanian regeneratif sebagai bagian dari strategi mitigasi iklim di sektor sawit rakyat. Program ini kini telah diterapkan secara aktif oleh kelompok tani yang tergabung dalam layanan FORTASBI
Sebanyak 13 desa di dua wilayah, yakni Forum Petani Swadaya Merlung Renah Mendaluh (FPS MRM) dan Asosiasi Petani Berkah Mandah Lestari (APBML), menjadi lokasi implementasi. Di wilayah FPS-MRM, desa-desa yang terlibat meliputi Sungai Rotan, Rantau Benar, Pulau Pauh, Lubuk Terap, dan Merlung. Sementara di wilayah APBML, program menyasar Taman Raja, Pemalang Tembesu, Pelabuhan Dagang, Gemuruh, Tanjung Tayas, Suban, Lubuk Lawas, dan Lubuk Bernai.
Hasil dari inisiatif ini menunjukkan dampak nyata: penggunaan pupuk organik mampu menekan pengeluaran biaya produksi, memperbaiki struktur dan kesuburan tanah, serta meningkatkan produktivitas tanaman sawit. Limbah ternak dan sawit yang sebelumnya dianggap tidak bernilai kini menjadi bahan baku utama dalam menciptakan sistem pertanian yang lebih sehat, aman, dan berkelanjutan.
Selain memberi manfaat ekonomi bagi petani, pemanfaatan limbah ini juga berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca. Cara pembuatannya pun terbilang sederhana dan dapat diaplikasikan dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang tersedia di sekitar kebun.
Upaya ini menjadi bukti bahwa petani sawit swadaya bukan hanya pelaku produksi, tetapi juga agen perubahan dalam menghadapi krisis iklim global. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, kontribusi mereka dapat menjadi tonggak penting dalam mewujudkan industri sawit yang adil dan lestari. (T2)












