InfoSAWIT, SAMPIT – Pertemuan tak sengaja di ajang lomba teknologi tepat guna mempertemukan dua generasi muda inovatif dari Kalimantan Tengah. Dr. Joni, guru dari SMA Muhammadiyah Sampit, bertutur tentang momen menarik saat dirinya bertemu dengan salah satu siswi SMP Hamparan 2. Keduanya ternyata tengah mempresentasikan inovasi serupa: teknologi biochar ramah lingkungan.
Bedanya, SMA Muhammadiyah menggunakan bahan baku berupa kayu bakar yang dicampur dengan rumput atau batang padi hasil panen. Sementara itu, tim dari SMP Hamparan 2 justru memanfaatkan limbah tandan kosong kelapa sawit-limbah yang seringkali hanya menumpuk di areal perkebunan tanpa pemanfaatan berarti.
Penelitian yang dilakukan oleh siswa-siswi SMP Hamparan 2 ini dimulai sejak tahun 2023. Tak hanya untuk kepentingan pembelajaran di kelas, mereka mengembangkan riset biochar ini dalam rangka mengikuti lomba teknologi tepat guna tingkat kabupaten di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur.
Proses pembuatan biochar oleh SMP Hamparan 2 dilakukan melalui sistem “open” atau pembakaran terbuka, setelah terlebih dahulu limbah tandan kosong sawit dihaluskan dan dicetak. Hasilnya, selain menjadi bahan tanam yang berguna untuk menyuburkan tanah, biochar ini juga dapat dijadikan briket sebagai bahan bakar alternatif.
“Kami melihat anak-anak tidak hanya mampu berpikir kreatif, tapi juga peduli pada lingkungan. Mereka berusaha mencari solusi dari limbah yang melimpah di sekitar,” ujar Dr. Joni yang kagum dengan pendekatan SMP Hamparan 2, kepada InfoSAWIT, Selasa (17/6/2025).
Lebih menarik lagi, inovasi ini didukung penuh oleh sekolah SMP Hamparan 2, yang merupakan bagian dari perkebunan kelapa sawit milik group Best Agro. Dukungan ini menjadi jembatan penting antara dunia pendidikan dan industri dalam mendorong lahirnya teknologi tepat guna berbasis lingkungan.
Selain berkontribusi pada pengurangan limbah sawit, upaya ini juga menjadi sarana edukasi tentang pentingnya inovasi berkelanjutan sejak usia dini. Limbah tandan kosong yang dulunya tak bernilai, kini disulap menjadi produk yang bermanfaat dan punya nilai jual.
Melalui pendekatan ilmiah dan kolaborasi lintas jenjang pendidikan, langkah kecil ini menjadi gambaran besar tentang masa depan energi alternatif dan pemanfaatan limbah di Indonesia. Sebuah pesan kuat bahwa inovasi bisa datang dari mana saja-bahkan dari tangan siswa-siswi
sekolah menengah di pedalaman Kalimantan. (T2)
Sumber Berita : infosawit.com












