InfoSAWIT, MENDALO – Siapa sangka limbah kelapa sawit yang selama ini dianggap tak bernilai bisa disulap menjadi sabun padat transparan beraroma khas dan berpotensi pasar? Itulah yang dipelajari 60 mahasiswa Agrobisnis Fakultas Pertanian Universitas Jambi (UNJA) dalam sebuah workshop inovatif yang digelar Selasa lalu.
Kegiatan ini terselenggara berkat kolaborasi antara Fakultas Pertanian UNJA, Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, dan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Bertempat di Laboratorium Dasar Program Studi Agrobisnis UNJA, workshop ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengasah kreativitas, melihat limbah bukan sebagai beban, tapi sebagai peluang.
Salah satu fokus utama workshop adalah pemanfaatan cangkang sawit berkualitas rendah – jenis limbah yang kerap menumpuk di sekitar pabrik kelapa sawit. Jika cangkang berkualitas tinggi bisa diekspor sebagai bahan bakar energi, maka cangkang yang tak memenuhi standar ekspor seringkali hanya dijadikan pengeras jalan atau bahkan dibiarkan menumpuk begitu saja.
Namun bagi Dr. Uce Lestari, peneliti dan dosen dari Universitas Sebelas Maret yang menjadi narasumber utama, limbah jenis ini justru memiliki potensi besar. Ia telah melakukan riset sejak 2016 hingga 2021 untuk mengolah cangkang sawit menjadi arang aktif, dan lebih lanjut menjadi bahan kosmetik, seperti sabun padat transparan.
“Melalui pelatihan ini, saya ingin menunjukkan bahwa sesuatu yang terlihat tak berguna bisa berubah menjadi produk unggulan, bahkan bernilai jual tinggi,” ujar Dr. Uce dikutip InfoSAWIT dari laman resmi UNJA, Minggu (29/6/2025).
Lantas, bagi Ketua Penyelenggara, Dr. Nuning Setyowati dari Fakultas Pertanian UNJA, pelatihan ini bukan sekadar agenda ilmiah, tetapi bagian dari strategi menciptakan wirausaha muda berbasis inovasi lokal. Dengan melimpahnya perkebunan kelapa sawit di Jambi, potensi untuk memanfaatkan limbah menjadi produk baru sangat terbuka.
“Tujuan kami agar mahasiswa mampu melihat limbah sawit bukan hanya sebagai residu, tetapi sebagai sumber daya baru yang bisa dikembangkan menjadi produk khas Jambi. Harapannya, sabun arang aktif ini bisa jadi salah satu ikon produk lokal,” kata Dr. Nuning.
Melalui sesi pelatihan ini, para mahasiswa tidak hanya belajar teknik pembuatan sabun secara teknis, tetapi juga mendapatkan wawasan soal nilai tambah, strategi pemasaran, dan pengemasan produk berbasis limbah.
Dalam konteks industri sawit nasional yang sering dikritik soal isu lingkungan dan limbah, pelatihan ini menawarkan narasi alternatif. Bahwa keberlanjutan bisa dimulai dari kampus, dari laboratorium sederhana, dengan ide-ide kecil yang bisa berdampak besar.
“Sektor sawit masih menghadapi tantangan limbah produksi yang terus-menerus dihasilkan. Inovasi seperti ini sangat penting agar industri bisa berjalan lebih ramah lingkungan,” ungkap Dr. Uce.
la juga mendorong mahasiswa untuk lebih eksploratif. Menurutnya, selain cangkang sawit, masih banyak jenis limbah lain seperti pelepah, bunga sawit, lidi, tandan kosong, bahkan minyak sawit mentah, yang bisa diolah menjadi produk kreatif lainnya – mulai dari kerajinan tangan hingga bahan kecantikan.
Workshop ini menjadi bagian dari upaya mewujudkan ekonomi sirkular di sektor sawit, di mana tidak ada limbah yang benar-benar dibuang, tetapi diubah menjadi produk baru yang bernilai. Pendekatan ini diyakini menjadi jalan tengah antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan.
Bagi mahasiswa, pelatihan ini menjadi awal yang membuka mata. “Saya baru tahu ternyata sabun bisa dibuat dari cangkang sawit, dan prosesnya juga tidak terlalu rumit,” ujar Rina, salah satu peserta yang bersemangat mencoba sendiri di meja praktik.
Dengan semakin banyak inovasi semacam ini, harapan untuk menjadikan sawit sebagai komoditas yang bukan hanya kuat secara ekonomi tapi juga ramah lingkungan semakin nyata. Dan kampus, seperti Universitas Jambi, bisa menjadi titik awal lahirnya transformasi itu. (T2)
Sumber Berita : infosawit.com












