Bloomberg Technoz, Jakarta – Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung memastikan level mandatori biodiesel tetap akan ditingkatkan menjadi B50 pada awal 2026, dan mengeklaim kesiapannya saat ini sudah hampir matang.
Yuliot menyebut implementasi mandatori biodiesel B40 pada tahun ini sudah berjalan dengan lancar, baik untuk segmen pelayanan publik atau public service obligation (PSO) maupun non-PSO. Hingga April 2025, penyaluran B40 telah mencapai 4,3 juta kiloliter (kl) dari target 15,62 juta kl sepanjang 2025.
“Jadi ya kita juga lagi mengevaluasi dari industri dalam negeri untuk ketersediaan FAME-nya. Kita sudah siap untuk masuk di B50 tahun depan. Jadi untuk B50 tahun depan ya mudah-mudahan dari awal tahun itu kita sudah bisa tetapkan,” ujarnya saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jumat (16/5/2025).
Bahan Baku
Yuliot juga mengatakan pelaku usaha juga sudah melaporkan mengenai keamanan ketersediaan bahan baku minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO), serta kesiapan industri pengolahan untuk ketersediaan FAME.

Biodiesel. (Kementerian ESDM)
“Dan juga ini bagaimana by-product yang dihasilkan itu juga bisa mengisi rantai pasok industri dalam negeri dalam rangka hilirisasi.”
Soal kesiapan badan usaha untuk memproduksi biodiesel B50, Yuliot juga mengatakan sudah ada industri FAME asal Amerika Serikat (AS) yang mendapatkan kuota lebih pada tahun ini, seiring dengan komitmen mereka untuk menambah kegiatan investasinya di Tanah Air.
“Terkait dengan ketersediaan bahan baku, mereka juga sudah mengonsolidasikan. Jadi ada penambahan bahan baku juga ini sudah dikondisikan,” tegas Yuliot.
Tambah Kapasitas
Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) sebelumnya mengatakan Indonesia membutuhkan peningkatan kapasitas terpasang biofuel setidaknya sebanyak 4 juta kl untuk dapat mengimplementasikan mandatori biodiesel B50 yang ditargetkan pada 2026.
Sekretaris Jenderal Aprobi Ernest Gunawan mengatakan kapasitas terpasang biodiesel Indonesia saat ini baru sekitar 19,6 juta kl. Kapasitas tersebut masih bisa mencukupi kebutuhan produksi untuk implementasi B40 tahun ini yang ditarget sebanyak 15,6 juta kl.
“Akan tetapi, kalau ditanya B50, dengan kapasitas terpasang kita 19,6 juta kl, sepertinya kita membutuhkan tambahan sekitar 4 juta kl,” kata Ernest di sela acara buka bersama Gapki, awal Maret.
Menurut Ernest, tahun ini Aprobi akan memiliki dua anggota baru yang diharapkan dapat menambah kapasitas produksi biodiesel sebanyak 1—1,5 juta kl. Namun, Indonesia masih membutuhkan tambahan kapasitas sekitar 2,5 juta ton lagi.
“[Selisih antara] kapasitas terpasang dengan kapasitas produksi itu biasanya kita mengambil average sekitar 80%—85%, karena adanya maintenance yang harus kita perhitungkan. Jadi [produksi] tidak bisa full 100% [dari kapasitas terpasang],” terangnya.
Aprobi mencatat, dengan target produksi B40 tahun ini sebanyak 15,6 juta kl, Indonesia membutuhkan bahan baku atau feedstock minyak sawit sebanyak 13,5 juta ton per tahun. Apabila pemerintah menargetkan produksi B50 sebanyak 19 juta kl, feedstock yang akan diperlukan mencapai 17—18 juta ton per tahun.
Sumber : bloombergtechnoz.com












