J100 merupakan avtur berbasis 100 persen minyak inti sawit tanpa campuran avtur fosil. Bahan bakar ini dikembangkan pemerintah bersama Pertamina sebagai bagian dari trio biohidrokarbon sawit bersama D100 dan G100.
Jakarta, HAISAWIT.CO.ID-J100 merupakan bahan bakar avtur yang dikembangkan dengan bahan baku 100 persen minyak inti sawit, tanpa campuran avtur fosil.
Bahan bakar tersebut dikenal sebagai green jet avtur atau avtur biohidrokarbon. J100 berbeda dari bioavtur J2.4 yang telah diuji terbang di Indonesia.
Mengutip laman GAPKI, J100 merupakan salah satu bahan bakar biohidrokarbon murni yang dikembangkan pemerintah bersama Pertamina untuk kebutuhan avtur pesawat.
Berbeda dengan D100 dan G100, J100 tidak menggunakan CPO sebagai bahan bakunya. Bahan yang digunakan adalah RBDPKO atau minyak inti sawit yang telah dimurnikan.
CPO berasal dari daging buah sawit, sedangkan RBDPKO berasal dari bagian inti atau biji sawit yang berada di dalam buah.
J100 menjadi bagian dari trio bahan bakar biohidrokarbon murni yang dikembangkan pemerintah bersama Pertamina, bersama D100 dan G100.
D100 merupakan pengganti solar yang telah berhasil diproduksi di Kilang Dumai. Sementara G100 sebagai pengganti bensin masih menjalani tahap uji coba di Kilang Plaju.
Ketiga bahan bakar tersebut dikembangkan menggunakan teknologi Katalis Merah Putih hasil kolaborasi Pertamina Research and Technology Centre dengan Institut Teknologi Bandung (ITB).
Pengembangan J100 dilakukan pemerintah melalui Kementerian ESDM bersama Pertamina di kilang yang berada di sentra produksi sawit.
Pengolahannya dapat dilakukan dengan memasukkan bahan baku sawit ke dalam proses pengolahan kilang yang telah tersedia atau membangun kilang khusus untuk bahan bakar hijau.
Hingga saat ini, bahan bakar yang telah terealisasi dan terbukti digunakan untuk penerbangan adalah bioavtur J2.4.
J2.4 menggunakan campuran 2,4 persen bahan bakar nabati dan 97,6 persen avtur fosil. Komposisi tersebut berbeda dari konsep J100 yang sepenuhnya berbasis sawit.
Sementara itu, J100 sebagai avtur nabati murni masih menjadi target pengembangan pemerintah. G100 juga masih berada dalam tahap penyempurnaan.
Pengembangan bahan bakar biohidrokarbon berbasis sawit sebelumnya memiliki pengalaman melalui D100 yang memiliki sejumlah keunggulan dibanding bahan bakar fosil.
D100 tercatat memiliki angka setana lebih tinggi, kandungan sulfur lebih rendah, kestabilan pembakaran lebih baik, serta warna lebih jernih dibanding bahan bakar fosil biasa.
Pengembangan J100 melengkapi pengembangan bahan bakar berbasis sawit untuk kendaraan darat hingga pesawat terbang sebagai bagian dari pemanfaatan sawit dalam energi nasional.***
Sumber Berita : haisawit.co.id













