Jakarta – Gas biometana yang berasal dari limbah sawit dimanfaatkan untuk bahan bakar industri. Pengembangan ini diharapkan dapat menciptakan ratusan lapangan kerja yang akan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
reNIKOLA Holdings Sdn Bhd (reNIKOLA), melalui anak perusahaannya di Indonesia PT reNIKOLA Primer Energi (PT RPE) meneken perjanjian jual beli gas biometana terkompresi (compressed biomethane gas/CBG) jangka panjang bersama PT Pertagas Niaga (PTGN), anak perusahaan PT Pertamina Gas (PERTAGAS).
Perjanjian ini membangun landasan komersial untuk CBG yang diproduksi dari 8 pabrik kelapa sawit milik PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) dan menandai langkah signifikan menuju pengembangan ekosistem biometana ke jaringan gas (biomethane-to-gas-grid) pertama di Indonesia.
Proyek ini merupakan pengembangan biometana terklaster pertama dan terbesar, yang mengintegrasikan gas terbarukan dari 8 pabrik kelapa sawit ke dalam satu jaringan pasokan terpusat. Setelah selesai, proyek ini diperkirakan akan memproduksi lebih dari 830.000 MMBtu setiap tahunnya, dengan nilai investasi sebesar 40 juta US Dolar.
“Perjanjian ini merupakan pencapaian penting dalam upaya kami untuk mengoptimalkan potensi nilai biometana di Indonesia. Dengan mensinergikan pemasok bahan baku, penyedia infrastruktur gas, dan permintaan pasar jangka panjang, kami membangun ekosistem biometana terukur yang membuktikan bagaimana limbah pertanian dapat diubah menjadi sumber energi terbarukan yang andal,” kata Chief Executive Officer/Direktur PT RPE, Amran Yusof dalam keterangan tertulis, Rabu (19/8/2026).
Proyek ini merupakan pengembangan biometana terklaster pertama dan terbesar, yang mengintegrasikan gas terbarukan dari 8 pabrik kelapa sawit ke dalam satu jaringan pasokan terpusat. Setelah selesai, proyek ini diperkirakan akan memproduksi lebih dari 830.000 MMBtu setiap tahunnya, dengan nilai investasi sebesar 40 juta US Dolar.
“Perjanjian ini merupakan pencapaian penting dalam upaya kami untuk mengoptimalkan potensi nilai biometana di Indonesia. Dengan mensinergikan pemasok bahan baku, penyedia infrastruktur gas, dan permintaan pasar jangka panjang, kami membangun ekosistem biometana terukur yang membuktikan bagaimana limbah pertanian dapat diubah menjadi sumber energi terbarukan yang andal,” kata Chief Executive Officer/Direktur PT RPE, Amran Yusof dalam keterangan tertulis, Rabu (19/8/2026).
Sumber Berita : finance.detik.com













