Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memiliki peluang mengembangkan produk bernilai tambah dari minyak sawit dan berbagai turunannya. Bahan baku tersebut dapat diolah menjadi beragam produk, mulai dari makanan, kerajinan tangan, hingga batik.
Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Helmi Muhansyah mengatakan, terdapat sekitar 200 jenis turunan minyak sawit yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku utama maupun bahan tambahan dalam produksi UMKM.
Menurut Helmi, kelapa sawit merupakan komoditas strategis nasional yang turut menggerakkan perekonomian, termasuk sektor UMKM. Potensi tersebut perlu dimanfaatkan pelaku usaha untuk menciptakan produk baru sekaligus memperluas pasar.
“Karena itulah, pelaku UMKM dapat terus berinovasi, memperluas pasar dan menciptakan kesempatan ekonomi yang lebih luas,” katanya di Malang, Jawa Timur, Sabtu (24/10/2026).
Helmi menjelaskan, sejumlah produk turunan sawit telah digunakan dalam berbagai industri. Di antaranya minyak goreng, margarin, krimer, cocoa butter substitute, hingga biodiesel.
“Pemanfaatan bahan berbasis sawit membuka peluang bagi UMKM untuk mengembangkan produk inovatif dengan nilai tambah,” ujarnya.
Ia menambahkan, kelapa sawit menjadi salah satu penopang ekonomi makro Indonesia. Komoditas tersebut berkontribusi sekitar 9 persen terhadap total ekspor nonmigas nasional, sekaligus mendukung hilirisasi energi dan menyerap jutaan tenaga kerja.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (Apolin) Markus Susanto mengatakan, sejumlah produk UMKM menggunakan bahan oleokimia yang berasal dari turunan sawit. Bahan tersebut antara lain fatty acid, soap noodle, dan gliserin.
Markus menyebut, produk oleokimia juga banyak dijumpai dalam barang yang digunakan masyarakat sehari-hari, seperti sabun, kosmetik, sampo, deterjen, serta produk perawatan tubuh.
“Saat ini, produk oleokimia hampir 70 persen memenuhi pangsa pasar ekspor dan 30 persen dipakai untuk kebutuhan dalam negeri. Kontribusinya bagi devisa ekspor mencapai 5 miliar sampai 6 miliar dolar per tahun,” katanya.
Guru Besar Departemen Teknologi Industri Pertanian Universitas Brawijaya, Susinggih Wijana juga mengatakan limbah sawit dapat diolah kembali oleh UMKM sebagai bagian dari penerapan ekonomi sirkular.
Ia mencontohkan, limbah sawit dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan ternak, mulai dari proses produksi hingga pendistribusian. Pelaku UMKM juga berpeluang memproduksi sabun dalam skala kecil hingga menengah dengan memanfaatkan bahan turunan sawit.
Sementara itu, Pemimpin Redaksi Majalah Sawit Indonesia Qayuum Amri menilai media memiliki peran dalam membantu UMKM memperluas jangkauan pemasaran. Kerja sama keduanya juga dapat meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai manfaat kelapa sawit.
“Harapan kami, kita bisa saling mendukung dan tumbuh bersama, baik pelaku UMKM maupun teman-teman media,” ujarnya.
Sumber Berita : inilah.com













